Tampilkan postingan dengan label Metode. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2010

Tujuh Cara Belajar

1. Pendekatan berdasarkan pada pemrosesan informasi yang baru. ( Kagan, Kolb, Honey & Mumford, Gregorc, Butler, McCarthy )

2. Pendekatan berdasarkan pada kepribadian, menentukan tipe karakter yang berbeda ( Myer-Briggs, Lawrence, Keirsey & Bates, Simon & Byram, Singer – Loomis, Grey – Wheelright, Holland, Geering )


3. Pendekatan berdasarkan pada modalitas sensori ( Bandler & Grinder, Messick )

4. Pendekatan berdasarkan pada lingkungan, mennetukan respons yang berbeda terhadap kondisi fisik, psikologis, social dan instruksional. ( Witkin, Eison, Canfield )


5. Pendekatan berdasarkan pada interaksi social, menentukan cara yang berbeda dalam berhubungan dengan orang lain. ( Grasha – Reichman, Perry, Mann, Furmann – Jacobs, Merrill )

6. Pendekatan berdasarkan pada kecerdasan, menentukan bakat yang berbeda. ( Gardner, Handy )


7. Pendekatan berdasarkan pada wilayah otak, mennetukan dominasi relative dari berbagai bagian otak, misalnya otak kiri dan otak kanan. ( Sperry, Bogen, Edwards, Herman )

Gaya Belajar setiap orang merupakan kombinasi dari semua lima kategori ini :
1. Lingkungan : suara, cahaya, temperature, desain
2. Emosi : motivasi, keuletan, tanggung jawab, struktur
3. Sosiologi : sendiri, berpasangan, kelompok, tim, dewasa, bervariasi.
4. Fisik : cara pandang, pemasukan, waktu, monilitas
5. Psikologis : global/ analitis, otak kiri – otak kanan, implusif/ reflektif.
Semua gaya belajar di atas mempunyai kelebihan dan keunggulan masing – masing.

( Sumber : Genius Learning Strategy, Adi W. Gunawan )

Mengapa menggunakan PORTOFOLIO ?

Mengapa menggunakan PORTOFOLIO ?

Portofolio, bukan sekedar alat untuk memberikan penilaian terhadap murid tetapi lebih tepat disebut sebagai alat pengujian proses pembelajaran.
Keuntungan penggunaan portofolio dalam teknik pengujian :
1. Meberikan kesempatan kepada murid untuk menunjukkan hasil pembelajaran melalui suatu produk/ tugas yang dikerjakan dengan lengkap dan menyeluruh.
2. Memberikan peluang pada orang tua murid untuk bisa melihat dan menilai perkembangan dan kemajuan anak.
3. Membuat guru lebih mengenal kekuatan dan kekurangan murid.
4. Mendorong terjadinya komunikasi yang bersifat pribadi ( tatap muka ) antara guru dan masing – masing murid.
5. Guru mampu mengembangkan satu gambaran yang lebih lengkap dan utuh mengenai kesenjangan pencapaian prestasi di antara setiap murid, pada akhir sesi pelajaran.
6. Mengembangkan dan meningkatkan kesdaran guru dan murid. Murid mengembangkan kesadaran mengenai gaya belajar dan preferensi mereka sedangkan guru mampu memperkirakan kebutuhan dan keinginan dari setiap muridnya.
7. Mendorong pengembangan strategi berpikir pada level yang lebih tinggi sepereti melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi.
8. Proses pembelajaran menempati posisi yang sama penting dan sama berharga dibandingkan dengan hasil akhir yang ingin dicapai.
Karakterisitik Portofolio yang baik :
1. Banyak Sumber
2. Otentik
3. Dinamis
4. Tujuan yang jelas
5. Terpadu
6. Tanggung jawab
7. Banyak Tujuan
Agar bisa berhasil dengan baik, system portofolio harus mempunyai lima elemen penting berikut ini :
1. Akses murid
2. Rasa memiliki
3. Hal yang relevan
4. Pengaturan
5. Kesempatan Berbagi.
( Sumber : Genius Learning Strategy, Adi W. Gunawan )

Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom

1. Pengetahuan :
Ingatan tentang materi atau bahan yang sudah pernah dipelajari.

2. Pengertian :
Kemampuan untuk menangkap arti dari suatu materi atau informasi yang dipelajari.

3. Aplikasi :
Kemampuan menggunakan atau menerapkan materi atau informasi yang telah dipelajari ke dalam suatu keadaan baru dan konkret dengan hanya mendapat sedikit pengarahan.

4. Analisis :
Kemampuan untuk memecah atau me nguraikan suatu informasi atau informasi menjadi komponen-komponen yang lebih kecil sehingga lebih mudah dipahami.

5. Sintesis :
Kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian atau komponen menjadi suatu bentuk yang lengkap dan unik.

6. Evaluasi :
Berhubungan dengan kemampuan untukmennetukan nilai suatu materi ( menilai suatu pernyataan, laporan, cerita, dll ) untuk tujuan tertentu.


( Sumber : Genius Learning Strategy, Adi W. Gunawan )


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Proses Belajar secara Kolabolarasi atau Collaborative Learning

Proses Belajar secara Kolabolarasi atau Collaborative Learning

Proses Belajar secara Kolabolarasi atau Collaborative Learning dalam suatu kelompok, tetapi penekanannya lebih kepada suatu proses pembelajaran yang melibatkan proses komunikasi secara utuh dan adil dalam kelas.
Proses itu meliputi :
1. Bagaimana guru berkomunikasi dengan murid dalam kaitannya dengan informasi yang akan diajarkan dan bagaimana kriteria penilaian?
2. Bagaimana murid berkomunikasi dengan guru dan dengan murid lainya ?
3. Apakah komunikasi di kelas adalah komunikasi satu arah, dua arah, atau multi arah ?
4. Apakah komunikasi dalam bentuk tulisan, ucapan atau sentuhan dan peragaan ?

Ada lima elemen penting yang harus ada dalam suatu Colaborative Learning :
1. Interdependen yang positif ( perasaan kebersaman )
2. Interaksi face to face atau tatap muka yang saling mendukung ( saling membantu, saling menghargai, memberikan selamat dan merayakan sukses bersama )
3. Tanggung jawab individu dan kelompok ( demi keberhasilan pembelajarna )
4. Kemmapuan berkomunikasi antar pribadi dan komuniaksi dalam suatu kelompok kecil ( komunikasi, rasa percaya, kepemimpinan, pembuatan keputusan dan manajemen serta resolusi konflik )
5. Pemrosesan secara kelompok ( melakukan refleksi terhadap fungsi dan kemampuan mereka bekerja sama sebagai suatu kelompok dan bagaimana untuk mampu berprestasi lebih baik lagi )

Tiga hal berikut harus diperjhatikan dalam melakukan proses pembelajaran kooperatif dan kolaboratif secara efektif :
1. Pengelompokan yang dilakukan dengan menggunakan acuan level kemampuan harus dilakukan dengan hati – hati.
2. Jumlah anggota kelompok harus diusahakan sedikit.
3. Collaborative Learning harus diterapkan secara konsisten dan sistematik, tetapi tidak boleh digunakan secara berlebihan.



Plus dan Minus Collaborative Learning
Ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh murid, antara lain :
1. Melatih rasa peduli, perhatian dan kerelaan untuk berbagi
2. Meningkatkan rasa penghargaan terhadap orang lain
3. Melatih kecerdasan emosional
4. Mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan pribadi
5. Mengasah kecerdasan interpersonal
6. Melatih kemampuan bekerjasama, team work.
7. Melatih kemampuan mendengarkan pendapat orang lain.
8. Manajemen konflik
9. Kemampuan berkomunikasi.
10. Murid tidak malu bertanya kepada temannya sendiri,
11. Kecepatan dan hasil belajar meningkat pesat.
12. Peningakatan daya ingat terhadap materi yang dipelajari.
13. Meningkatkan motivasi dan suasana belajar.

Sisi Negatif yang akan muncul dalam Collaborative Learning :
1. Murid yang lebih pintar, bila belum mengerti tujuan yang sesungguhnya dari proses ini, akan merasa sangat dirugikan karena harus repot – repot membantu temannya.
2. Murid lain juga akan merasa keberatan karena nilai yang ia peroleh ditentukan oleh prestasi atau pencapaian kelompoknya.
3. Bila kerjasama tidak dapat dijalankan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah beberapa murid yang pintar dan aktif saja.


( Sumber : Genius Learning Strategy, Adi W. Gunawan )


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

MENGAJAR DENGAN EFEKTIF


MENGAJAR DENGAN EFEKTIF.
Mengajar dengan efektif harus menghindari hal – hal  sebagai berikut ketika menyampaikan materi pelajaran :
1.       Berbicara terlalu cepat
2.       Berbicara monoton dan tidak menarik
3.       Berbicara terlalu pelan sehingga murid sulit mendengar, terutama yang duduk di deretan belakang.
4.       Mengejek murid
5.       Menjelek-jelekkan murid
6.       Merendahkan kecerdasan murid
7.       Banyak bicara tapi tak ada isinya.
8.       Meras tahu segala hal
9.       Tidak suka bila murid banyak bertanya
10.   Penggunaan tata bahasa yang buruk
11.   Menggunakan kata-kata yang terlalu tinggi
12.   Berbicara tanpa persiapan baik
13.   Kurang melakukan kontak mata
14.   Kurang tegas dan terlalu bertele-tele
15.   Mencatat apa yang sebenarnya ada di buku.
16.   Mengulang materi yang telah dikuasai murid, kecuali untuk peninjauan ulang.


( Sumber : Genius Learning Strategy, Adi W. Gunawan )